Jumat, 21 Januari 2011

Biomekanika, Paper 2 :))

Model Empiris Elastisitas dan Viskoelastisitas Bahan

Oleh:

Yudha Noor Aditya (080810008), Gilang Daril Umami (080810009), Istifarah (080810023), Agnes Krisanti W. (080810040), Putri Ni'matullillah (0808100), Fatimatul Karimah (0808100), Arindha Reni Pramesti (080810115), Miranda Zawazi Ihsan (080810), Nurul Istiqomah (080810), Windi Aprilyanti (080810152), Aditya Iman Rizky (080810169), Perwitasari FLR (080810190)

9.3. Model Empiris Viskoelastisitas


 


 


 

Gambar 9.6. Spring elastic solid dan dashpot viscous fluid

Spring (berlambang E) dan dashpot (berlambang η) merupakan wujud model analisis dalam menggambarkan viskoelastisitas. Spring (per) bekerja dan melambangkan sifat elastic dari material padat, sedangkan dashpot bekerja dan melambangkan sifat viskos yang ada pada suatu zat cair. Jika dilihat pada gambar di atas, gaya (stress) yang diberikan pada rangkaian akan menyebabkan deformasi (strain) pada kedua elemen tsb. Namun bedanya, deformasi pada spring bersifat sementara atau akan kembali ke bentuk semula setelah gaya dilepaskan, dimana deformasi pada dashpot akan menjadi permanen.


 

9.3.1. Model Kelvin-Voight


 


 


 


 


 

Gambar 9.7. Kelvin-Voight Model

    Bentuk model empiris paling sederhana diperoleh dengan menggabungkan spring dan dashpot dalam satu rangkaian parallel seperti ditunjukkan oleh gambar 9.7 di atas yang disebut model Kelvin-Voight. Dilihat pada gambar, rangkaian dikenai stress (σ) sehingga diperoleh

                                        (9.6)


 

dimana huruf s melambangkan spring dan huruf d melambangkan dashpot.

    Kemudian dengan adanya stress ini, kedua elemen juga mengalami deformasi atau strain (ε) masing-masing sehingga diperoleh

                                                (9.7)

Ada pula persamaan yang menghubungkan stress yang diberikan dengan strain yang dihasilkan

                                                (9.8)

                                                (9.9)

dimana stress dibandingkan strain atau stress/strain (σ/є) menunjukkan modulus elastisitas dan viskoelastisitas bahan yang menunjukkan daya/kemampuan bahan dalam menahan deformasi.

Dengan mensubstitusikan pers. (9.8) dan (9.9) ke dalam pers. (9.6) diperoleh

                                    (9.10)

dan dari pers. (9.7) menjadi

                                    (9.11)

Perhatikan bahwa strain rate (έ) yang dialami dashpot bias ditulis


 

                                    (9.12)

Pers. (9.12) di atas menghubungkan stress dengan strain dan strain rate bagi Model Kelvin-Voight dan merupakan persamaan diferensial biasa. Pada dashpot deformasi atau strain nya permanen sehingga terus terjadi perubahan panjang (strain) mengikuti berjalannya waktu sehingga bias didiferensialkan seperti pada persamaan ini.


 


 


 


 

9.3.2 Maxwell Model


    



 

        Gambar 9.8 maxwell model


 

Seperti terlihat pada gambar 9.8, konsep Maxwell model adalah menghubungkan spring dan dashpot pada satu rangkaian seri. Pada keadaan ini, stress yang digunakan pada semua sistem adalah sama pada spring dan dashpot yang dipakai (σ = σs = σd ). Dan hasil strain(ϵ) adalah jumlah strain pada spring dan dashpots (ϵ = ϵ s + ϵ d ). Meskipun analisa strees – strain

sama untuk mempengaruhi persamaan defferential Kelvin-Voight model yang berhubungan dengan stress dan strain untuk maxwell model dapat diperoleh persamaan seperti ini :

        (9.13)


 

Ini juga orde pertama, persamaan diferensial yang biasanya linear ditunjukkan pada 2 parameter ( E dan η ) sifat vikoelastis. Untuk stress yang diberikan (atau strain) persamaan (9.13) dapat digunakan untuk menyamakan strain (atau stress).

Springs digunakan untuk menunjukkan sifat elastis padatan dan ada batasan berapa besar spring dapat dibentuk. Pada saat yang lain, dashpots digunakan untuk menunjukkan sifat cairan dan digunakan untuk membentuk aliran yang terus menerus selama gaya yang dibentuk mereka. Contohnya, pada maxwell model, gaya yang digunakan akan menyebabakan spring dan dashpots terbentuk. Perubahan bentuk spring terbatas. Dashpot akan menjaga perubahan bentuk selama gaya ada. Oleh karena itu, secara keseluruhan sifat Maxwell model lebih seperti cairan daripada padatan dan ini dikenal menjadi model viscoelastic fluid. Perubahan bentuk dashpot yang dihubungkan paralel ke spring ,seperti pada Kelvin-Voight model, adalah dibatasi oleh respon spring yang digunakan pada beban. Dashpot pada Kelvin-Voight model tidak dapat mengalami perubahan bentuk yang terus menerus. Oleh karena itu, Kelvin-Voight model menunjukkan sifat viscoelastic solid.

9.3.3 Permodelan zat padat yang standar

    Zat padat Kelvin-Voight dan zat cair Maxwell adalah dasar permodel viskoelastis dengan menghubungkan sebuah spring dan sebuah dashpot secara bersama. Keduanya tidak menggambarkan setiap material yang nyata dikenal. Namun, disamping spring dan dashpot, keduanya bisa digunakan untuk mengggambarkan permodelan viskoelastis yang lebih kompleks, seperti permodelan zat padat yang standar. Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 9.9, permodelan zat padat yang standar tersusun atas sebuah spring dan zat padat Kelvin-Voight dihubungkan secara seri. Permodelan zat padat yang standar adalah sebuah permodelan tiga parameter (E1, E2, dan η) dan digunakan untuk menjelaskan perilaku viskoelastis dari sejumlah material biologis, seperti kartilago dan membran sel darah putih. Fungsi yang terkait dengan stress, strrain, dan rata-ratanya untuk permodelan ini adalah :


 

    Pada persamaan (9.14), adalah stress rata-rata dan adalah strain rata-rata. Persamaan ini didapat dari penjelasan berikut. Seperti yang dilustrasikan pada Gambar 9.10, permodelan bisa digambarkan dengan dua unit, A dan B, dihubungkan secara seri dimana unit A adalah sebuah zat padat yang elastis dan unit B adalah sebuah zat padat Kelvin-Voight. Jika σA dan єA menggambarkan stress dan strain di unit A, dan σB dan єB menggambarkan stress dan strain di unit B, maka :

            σA = E1 єA                         (i)

            σB = E2 єB + η = єB            (ii)

Setelah unit A dan unit B dihubungkan secara seri :

            єA + єB = є                        (iii)

            σA + σB = σ                        (iv)

Substitusikan persamaan (iv) ke dalam persamaan (i) dan (ii) dan nyatakan keduanya ke dalam hubungan strain єA dan єB :

            єA =

            єB =

Substitusi persamaan (v) dan (vi) ke dalam persamaan (iii) :

             + = є

Menggunakan perkalian silang, dan menyesuaikan dengan persyaratan, maka diperoleh :

            

9.4. Respon Material terhadap Waktu

Model empiris untuk bahan viskoelastik yang diberikan dapat dibentuk melalui serangkaian percobaan. Ada beberapa teknik eksperimental yang dirancang untuk menganalisis aspek pengaruh waktu terhadap perilaku material.


Gambar (a) Creep and recovery            Gambar (b) Stress relaxation

Diilustrasikan oleh gambar (a), sebuah creep dan tes recovery (recoil) dilakukan dengan menerapkan beban (stress σ0) pada material terhadap waktu t0, mempertahankan beban pada tingkat yang konstan sampai waktu t1, dengan tiba-tiba memindahkan beban di t1, dan mengamati respon bahan tersebut. Seperti digambarkan pada gambar (b), eksperimen stress relaxation dilakukan dengan mengusahakan material mencapai tingkat Є0 dan mempertahankan regangan konstan sambil mengamati dalam respon stres material. Dalam tes oscillatory response harmonisasi diterapkan dan regangan bahan diukur (gambar c).


Gambar (c) Ossilatory response tests

Apabila sebuah bahan viskoelastik dikenai uji creep, hasil uji creep dapat diwakili dengan merencanakan strain diukur sebagai fungsi waktu. Model Viscoelastis empiris untuk perilaku material dapat diperoleh melalui serangkaian percobaan. Untuk tujuan ini, model empiris dibangun dengan menghubungkan sejumlah pegas dan dashpots secara bersama-sama. Persamaan diferensial yang berkaitan dengan tegangan, regangan dan tingkatan mereka berasal dari garis prosedur dalam bagian 9.3 untuk Kelvin - Voight model. Kondisi yang dikenakan dalam uji creep adalah σ = σ0. Kondisi stress konstan disubstitusikan ke dalam persamaan deferensial, yang kemudian dipecahkan (terintegrasi) untuk strain Є. Hasil yang diperoleh adalah persamaan lain yang terkait regangan terhadap stres σ konstan, modulus elastis dan koefisien viskositas model empiris, dan waktu. Untuk σ0 dan modulus elastis dan modulus viskositas, persamaan ini direduksi menjadi fungsi yang berhubungan regangan terhadap waktu. Fungsi tesebut kemudian digunakan untuk plot grafik strain versus waktu dan dibandingkan dengan grafik eksperimental yang diperoleh. Jika karakteristik umum kedua (eksperimental dan analitis) kurva dibandingkan, analisis yang ditindaklanjuti adalah untuk menetapkan modulus elastis dan modulus viskositas (bahan konstan) material. Ini dicapai dengan memvariasikan nilai-nilai modulus elastis dan modulus viskositas dalam model empiris sampai kurva analitis yang cocok dengan kurva eksperimental sedekat mungkin. Secara umum, prosedur ini disebut curve fitting. Jika tidak ada perbandingan umum antara kedua kurva, model lama ditinggalkan, kemudian sebuah model baru dibangun dan diperiksa.

Dari hasil analisis model matematika adalah model empiris dan persamaan diferensial yang berkaitan dengan stress (regangan) dan strain (tegangan). Tegangan – regangan dapat digunakan dalam hubungannya dengan hokum dasar mekanika untuk menganalisis respon bahan (material) untuk kondisi pembebanan yang berbeda.

Perlu diperhatikan bahwa proses deformasi yang terjadi pada bahan viskoelastik adalah cukup kompleks, dan kadang-kadang perlu menggunakan susunan model empiris untuk menjelaskan respon dari bahan viskoelastik untuk kondisi pembebanan yang berbeda. Misalnya, respons geser dari bahan viskoelastik dapat dijelaskan dengan satu model yang berbeda mungkin diperlukan untuk menjelaskan tanggapannya terhadap pemuatan normal. Model yang berbeda mungkin juga diperlukan untuk menjelaskan respon dari bahan viskoelastik pada tingkat regangan rendah dan tinggi.


 


 


 

ELASTISITAS


Gamb. 1. Pegas

Elastisitas merupakan Kecenderungan pada suatu benda untuk berubah dalam bentuk baik panjang, lebar maupun tingginya, tetapi massanya tetap, hal itu disebabkan oleh gaya-gaya yang menekan atau menariknya, pada saat gaya ditiadakan bentuk kembali seperti semula.


 


 

Ketika menarik karet mainan sampai batas tertentu, karet tersebut bertambah panjang. Jika tarikan dilepaskan, maka karet akan kembali ke panjang semula. Demikian juga ketika merentangkan pegas, pegas tersebut akan bertambah panjang. tetapi ketika dilepaskan, panjang pegas akan kembali seperti semula. Mengapa demikian ? hal itu disebabkan karena benda-benda tersebut memiliki sifat elastis. Elastis atau elastsisitas adalah kemampuan sebuah benda untuk kembali ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan pada benda tersebut dihilangkan. Jika sebuah gaya diberikan pada sebuah benda yang elastis, maka bentuk benda tersebut berubah. Untuk pegas dan karet, yang dimaksudkan dengan perubahan bentuk adalah pertambahan panjang.


 

Perlu diketahui bahwa gaya yang diberikan juga memiliki batas-batas tertentu. Sebuah karet bisa putus jika gaya tarik yang diberikan sangat besar, melawati batas elastisitasnya. Demikian juga sebuah pegas tidak akan kembali ke bentuk semula jika diregangkan dengan gaya yang sangat besar. Jadi benda-benda elastis tersebut memiliki batas elastisitas.

Hukum Hooke adalah hukum atau ketentuan mengenai gaya dalam bidang ilmu fisika yang terjadi karena sifat elastisitas dari sebuah pir atau pegas. Besarnya gaya Hooke ini secara proporsional akan berbanding lurus dengan jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya, atau lewat rumus matematis dapat digambarkan sebagai berikut:


 



 

di mana

F = gaya ( N )

k = konstante pegas ( N/m)

x = jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya (m).


 


Gmb.2 Sebuah diagram tegangan - regangan suatu logam kenyal yang menderita tarikan.


 

Hubungan antara setiap jenis tegangan dengan regangan yang bersangkutan penting peranannnya dalam cabang fisika yang disebut teori elastisitas pada ilmu kekuatan bahan dibidang engineering. Apabila suatu jenis tegangan dilukiskan grafiknya terhadap regangannya, akan ternyuata bahawa diagram tegangan - regangan yang kita peroleh berbeda - beda bentuknya menurut jenis bahannya. Dua bahan yang termasuk jenis bahan yang sangat penting dalam ilmu dan teknologi dewasa ini ialah logam dan karet yang divulkanisir.

Bahkan di antara logam - logam, perbedaan tersebut sangatlah luasnya. Gambar 2.1 memperlihatkan sederhana dan regangannya menunjukkan prosentase perpanjangan. Di bagian awal kurva (sampai regangan yang kurang dari 1 %), tegangan dan regangan adalah proporsional sampai titik a (batas proporsionalnya) tercapai. Hubungan proporsional antara tegangan dan regangan dalm daerajh ini disebut Hukum Hooke. Mulai a sampai b tegangan dan regangan tidak proporsional, tetapi walaupun demikian, bila beban ditiadakan disembarang titik antara 0 dan b, kurva akan menelusuri jejajknya kembali dan bahan yang bersangkutan akan kembali kepada panjang awalnya. Dikatakanlah bahwa dalam daerah ob bahan itu elastis atau memperlihatkan sifat elastis dan titik b dinamakan batas elastis.


Gmb. 3. Diagram tegangan - regangan karet divulkanisir, yang memperlihatkan histeresis elastik.


 

Kalau bahan itu ditambah bebannya, regangan akan bertambah dengan cepat, tetapi apabila beban dilepas di suatu titik selewat b, misalkan di titik c, bahan tidak akan kembali kepanjang walnya, melainkan akan mengikuti garis putus - putus pada Gambar 12-1. Panjangnya pada tegangan nol kini lebih besar dari panjang awalnya dan bahan itu dikatakan mempunyai suatu regangan tetap (permanent set). Penambahan beban lagi sehingga melampaui c akan sangat menambah regangan sampai tercapai titik d, dimana bahan menjadi putus. Dari b ke d, logam itu dikatakan mengalami arus plastis atau deformasi plastis, dalam mana terjadi luncuran dalam logam itu sepanjang bidang yang tegangan luncurnya maksimum. Jika antara batas elastik dan titik putus terjadi deformasi plastik yang besar, logam itu dikatakan kenyal (ductile). Akan tetapi jika pemutusan terjadi segera setelah melewati batas elastis, logam itu dikatakan rapuh.

Gambar 12-2 melukiskan sebuah kurva tegangan - tegangan karet divulkanisasi yang diregang sampai melebihi tujuh kali panjang awalnya. Tidak ada bagian kurva ini dimana tegangan proporsional dengan regangan. Akan tetapi bahan itu elastik, dalam arti bahwa kalau beban ditiadakan, karet itu akan kembali ke panjangnya semula. Bila beban dikurangi,kurva tegangan - regangan tidak menurut jejaknya kembali melainkan mengikuti kurva garis putus - putus paa Gambar 12-2. tidak berimpitnya kurva tegangan bertambah dan kurva tegangan berkurang disebut histeris ealstis. Gejala yang analog yang terjadi pada bahan magnet disebut histeris magnet. Luas bidang yang dibatasi oleh kedua kurva itu, yaitu luas lingkaran histeris, sama dengan energi yang hilang di dalam bahan elastis atau bahan magnetik. Beberapa jenis karet histeris elastiknya besar. Sifat ini membuat bahan itu bermanfaat untuk peredam getaran. Jika balokdari bahan semacam ini diletakkan antara sebuah mesin yang bergetar dan lantai misalnya, terjadilah elastis setiap daur getaran. Energi mekanik berubah menjadi yang dikenal sebagai energi dakhil, yang kehadirannya dapat diketahui dari naiknya temperatur. Hasilnya, hanya sedikit saja energi getaran diteruskan ke lantai.

Perilaku bahan-bahan nyata selalu selalu menyimpang, lebih besar atau lebih kecil, dari perilaku bahan ideal. sifat baku bahan biologis bahwa hubungan tegangan dengan perubahan bentuk juga tergantung pada laju perubahan bentuk. Hal ini berarti bahwa suatu hubungan harus dijabarkan tidak hanya atas dua faktor (tegangan dan perubahan bentuk) tetapi tiga faktor (tegangan, perubahan bentuk dan waktu). Bahan-bahan yang perilakunya dipengaruhi fungsi waktu disebut bahan viskoelastis. Bahan-bahan demikian mempunyai sebagian sifat dari padatan dan sebagian sifat dari cairan.

Rayapan / rambatan (creep)    

Rayapan dipahami sebagai perubahan bentuk yang terus-menerus dari suatu bahan dibawah pengaruh tekanan konstan. Secara umum terdapat tiga tahapan proses rayapan (Gb. 64). Pada rayapan tahap pertama laju perubahan bentuk menurun, dan proses ini dinamakan rayapan primer; pada tahap kedua laju perubahan bentuk adalah mendekati konstan, dan pada tahap ketiga laju perubahan meningkat, dan proses diakhiri dengan proses putus atau runtuh (rupture). Periode waktu untuk setiap tahap rayapan sangat tergantung pada struktur dari bahan dan besarnya tegangan.


 

Total regangan (perpanjangan relatif) pada waktu t terdiri atas komponen-komponen tegangan elastis dan regangan


 

Laju regangan diperoleh melalui diferensiasi. Dengan memberikan nilai εe=konstan, laju regangan adalah


 


Gb.64. Tahapan rayapan

Pemulihan (recovery)

Pada tes rayapan, pada waktu t tertentu, beban dipindahkan dan secara bersamaan regangan elastis kembali menuju dimensi awal secara penuh. Regangan rayapan menurun sebagai fungsi waktu, misalnya seperti ditunjukkan dalam proses pemulihan sebagai fungsi waktu pada Gb. 65. Regangan rayapan mungkin tidak lenyap sepenuhnya selama periode pemulihan, bahkan untuk waktu t yang panjang; sisa nilainya disebut sisa regangan (residual deformation).

Tingkat pemulihan mungkin berbeda untuk setiap individu bahan. Disamping sifat dari struktur bahan tingkat pemulihan juga dipengaruhi oleh besar dan proses pembebanan. Pada bahan-bahan pertanian tingkat pemulihan menurun dengan meningkatnya beban. Tingkat pemulihan juga menurun oleh kenaikan suhu, dimana sifat ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu keuntungan dalam pekerjaan pembutiran (pelleting) dan pembuatan tablet (wafering).

    Sebagaimana yang telah didiskusikan sebelumnya, sebuah tes pemuluran dan pemulihan (creep and recovery) dilakukan dengan obsevasi respon material terhadap stress konstan σo yang diterapkan saat to dan dihilangkan saat t1 (Gambar 9.17a). Sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 9.17b, beban akan menghasilkan strain ε = σo/E dalam material elastic linear saat waktu to. Strain konstan ini akan tetap berlangsung hingga t1, yakni saat material mengalami pemulihan deformasi. Untuk pembebanan konstan yang sama, material viskoelastis akan mengalami strain yang meningkat antara to hingga t1, saat pemulihan perlahan mulai terjadi. Pada material viskoelastis padat, material mampu mencapai kondisi awal sempurna setelah selang waktu tertentu (Gambar 9.17c); namun berbeda halnya dengan material viskoelastis cair yang tidak dimungkinkan untuk mencapai kondisi awal sempurna (Gambar 9.17d), dimana sisa deformasi masih dapat ditemukan.

    Sebagaimana yang telah diilustrasikan pada Gambar 9.18a, tes relaksasi stress (Stress Relaxation test), dilakukan dengan meregangkan material sebesar εo secara konstan, dilihat respon dari material. Respon material elastic linear dapat dilhat pada gambar 9.18b. Stress konstan σo = εo. E berkembang pada material, selama εo diterapkan. Dengan kata lain, material elastis tidak akan menunjukkan relaksasi stress; berbeda dengan material viskoelastis yang akan merespon dengan stress awal yang tinggi, kemudian menurun sejalan dengan waktu. Material viskoelastis padat, stress tidak akan pernah mencapa nol (Gambar 9.18c), sedangkan pada viskoelastis cair, stress nol akan tercapai (Gambar 9.18d).

    Karena sifatnya yang bergantung pada waktu, material viskoelastis dikatakan memiliki sifat memori. Dengan kata lain, material viskoelastis mampu mengingat deformasi yang sedang berlangsung dan bereaksi sesuai dengan deformasi tersebut.

    Hampir semua material biologis memiliki sifat viskoelastis, dan sisa bab ini akan mendiskusikan sifat mekanik dari jaringan biologis, termasuk tulang, tendon, ligament, otot, dan kartilago artikuler.


 


 


 

Simak

Baca secara fonetik


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Biomekanika, Paper 1 :))

METODE MENENTUKAN MASSA DAN KERAPATAN

Oleh:

Yudha Noor Aditya (080810008), Gilang Daril Umami (080810009), Istifarah (080810023), Agnes Krisanti W. (080810040), Putri Ni'matullillah (0808100), Fatimatul Karimah (0808100), Arindha Reni Pramesti (080810), Miranda Zawazi Ihsan (080810), Nurul Istiqomah (080810), Windi Aprilyanti (080810152), Aditya Iman Rizky (080810169), Perwitasari FLR (080810190)


 

Abstrak

Dalam tubuh, kerapatan juga dapat diaplikasikan untuk mencari sifat fisik dari kerapatan bagian tubuh. Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan massa dan kerapatan tubuh manusia yaitu Volume displacement method, CT scan, dan MRI scan. Volume displacement method merupakan metode tertua untuk mengukur berat jenis tubuh manusia. CT scan adalah prosedur x-ray yang mengombinasikan banyak gambar x-ray untuk memperoleh gambaran melintang serta gambar tiga dimensi dari struktur-struktur dalam tubuh (Stoppler, 2010). CT scan dapat dilakukan untuk mengukur kerapatan tulang, dalam evaluasi osteoporosis, karena kemampuannya untuk memberikan gambaran anatomis secara akurat. MRI scan adalah teknik radiologi yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambaran struktur tubuh (Shiel, 2010) Gambar yang dihasilkan sangat detail dan beresolusi tinggi; dari gambar tersebut dapat diperoleh nilai kerapatan tulang.


 

  1. PENDAHULUAN

        

        Sebelum mempelajari lebih dalam tentang penentuan massa dan kerapatan, kita perlu mengetahui arti dari massa dan kerapatan itu sendiri.


     

    Massa

    Massa (berasal dari bahasa Yunani μάζα), adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Dalam kegunaannya sehari-hari, massa biasanya disamaartikan dengan berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.

    Konsep modern massa diperkenalkan oleh Isaac Newton dalam penjelasan gravitasi dan inersia yang dikembangkannya. Sebelumnya, berbagai fenomena gravitasi dan inersia dipandang sebagai dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan. Namun, Isaac Newton menggabungkan fenomena-fenomena ini dan berargumen bahwa kesemuaan fenomena ini disebabkan oleh adanya keberadaan massa.

    Alat yang digunakan untuk mengukur massa biasanya adalah timbangan. Dalam satuan SI, massa diukur dalam satuan kilogram (kg). Terdapat pula berbagai satuan-satuan massa lainnya, misalnya:

  • gram: 1 g = 0,001 kg (1000 g = 1 kg)
  • ton: 1 ton = 1000 kg
  • MeV/c2 (Umumnya digunakan untuk mengalamatkan massa partikel subatom)

    Kerapatan

    Kerapatan atau density adalah properti fisik dari materi yang mengungkapkan hubungan massa terhadap volume. Kerapatan massa atau kerapatan material didefinisikan sebagai massa per satuan volume. Untuk bahan yang berbeda, memiliki density yang berbeda pula.

    Kerapatan massa material bervariasi terhadap suhu dan tekanan. Peningkatan tekanan pada objek akan menurunkan volume objek, sehingga menurunkan nilai densitas terhadap objek tersebut.

    Hubungan kerapatan dengan massa

    Konsep hubungan kerapatan dengan massa dapat dilihat ketika mempertimbangkan dua benda dengan massa yang sama dan volume yang sama. Secara matematis, hubungan antara kerapatan, massa dan volume suatu material adalah :


     


     

    Dimana :

    ρ = kerapatan objek yang diamati ( g/m3)

    m = massa dari objek yang diamati ( g )

    v = volume dari objek yang diamati (m3)

        Bila dilihat dari rumus density tersebut, hubungan antara density dengan massa adalah linear. Namun untuk hubungan antara density dan volume adalah berbanding terbalik. Semakin besar massa material, semakin besar juga nilai density dari material tersebut. Sedangkan untuk volume, semakin besar volume, maka density nya akan semakin kecil.

    Aplikasi Massa dan Kerapatan

    Massa dan kerapatan suatu material dapat diaplikasikan pada material baik berbentuk padat, cair maupun gas. Dalam tubuh, kerapatan juga dapat diaplikasikan untuk mencari sifat fisik dari kerapatan bagian tubuh. Pada makalah ini, aplikasi kerapatan tubuh, lebih diartikan pada kerapatan padatan tulang.


     

  1. PEMBAHASAN

    Metode Pertama Penentuan Kerapatan

        Prinsip Archimedes menyatakan bahwa :

    Ketika sebuah benda tercelup seluruhnya atau sebagian di dalam zat cair, zat cair akan memberikan gaya ke atas (gaya apung) pada benda, di mana besarnya gayake atas (gaya apung) sama dengan berat zat cair yang dipindahkan.

    Diagram menunjukkan bahwa ketika objek ditempatkan dalam ember yang berisi air, air kemudian tumpah. Volume air yang tumpah ini disebut Overflow yang nilainya sama dengan volume objek. Skala juga menunjukkan bahwa berat semu dari objek dalam air adalah lebih kecil daripada berat yang sebenarnya (di udara).

    Berat di udara – berat dalam air =  gaya apung

    Berat air yang dipindahkan = gaya apung

    Volume air yang tumpah = volume benda yang tercelup dalam air tersebutJika seluruh bagian benda tercelup dalam air, maka volume air yang tumpah = volume benda tersebut. Tapi jika benda hanya tercelup sebagian, maka volume air yang tumpah = volume dari bagian benda yang tercelup dalam air.

    Besarnya gaya apung yang diberikan oleh air pada benda = berat air yang tumpah 

    Dengan (berat air yang tumpah = w = mair.g = massa jenis air x volume air yang tumpah x percepatan gravitasi). 

    Dan Volume air yang tumpah = volume benda yang tercelup dalam air

    Berat jenis suatu benda merupakan perbandingan antara berat benda tersebut di udara dengan berat air yang memiliki volume yang sama dengan volume benda. Secara matematis ditulis :


     

    Menurut Archimedes, berat air yang memiliki volume yang sama dengan volume benda = besarnya gaya apung ketika benda tenggelam (seluruh bagan benda tercelup dalam air). Hal ini sama saja dengan berat benda yang hilang ketika ditimbang dalam air. Dengan demikian :


     

    Contoh:

    Untuk menentukan berat jenis mahkota, maka terlebih dahulu mahkota ditimbang di udara (Berat Mahkota di Udara). Selanjutnya mahkota dimasukan ke dalam air lalu ditimbang lagi untuk memperoleh Berat Mahkota Yang Hilang. Sehingga :


     

    Metode Kedua Penentuan Kerapatan

    Pada metode pertama massa ditentukan dengan berat objek di udara. Dengan merendahkan objek ke dalam air dan berat air yang di pindahkan maka volume objek dapat di tentukan (setelah melakukan koreksi untuk perbedaan temperatur). Massa dan volume digunakan untuk menentukan kerapatan.

    Pada metode kedua ini, objek diukur beratnya di udara dan di air. Kerapatan dapat ditentukan dengan menggunakan:


     


     


     


     


     


     

    Dimana :

    ρ = kerapatan dari objek yang di teliti (g/m3)

    Wudara = berat objek di udara

    Wair = berat objek di air

    V = volume benda yang di teliti /(m3)

    g = percepatan grafitasi

    Metode perpindahan volume digunakan untuk menentukan volume segmen dari manusia hidup (Dempster, 1955;Clauser et al,1969). Subjek memasukkan tubuh kedalam tangki pengukuran, lalu air yang di pindahkan diukur. Metode perubahan volume terbukti kurang dapat diandalkan pada manusia hidup daripada cadaver, dengan variasi pengulangan pengukuran mencapai 3 hingga 5 %.

    Kerapatan yang ditentukan dengan metode diatas memberikan kerapatan rata-rata dari keseluruhan segmen. Bagaimanapun, jaringan individual yang menyusun segmen manusia mempunyai kerapatan yang berbeda-beda. Segmen cadaver telah dibedah untuk menentukan kerapatan tulang, otot dan lemak. Volume dari jaringan individu dapat ditentukan melalui penggunaan metode seperti tomography aksial terkomputerisasi atau pencitraan resonansi magnetik. Volume ini dapat digunakan untuk menentukan masa segmen secara keseluruhan.

    Volume Displacement Method

  2.     Volume displacement method adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengukur berat jenis tubuh manusia. Metode ini adalah yang tertua dan mungkin yang paling akurat. Behnke yang pertama kali menggunakan metode ini, menunjukkan bahwa kelebihan berat badan dari pemain American football bukan hasil dari kelebihan lemak tetapi pembesaran massa otot.
  3.     Dalam metode ini, subjek pertama diukur di udara dan kemudian membenamkan seluruhnya kedalam air. Perbedaan antara berat di udara dan berat dalam air adalah gaya ke atas, yang mana sama dengan berat dari air yang pindah (hukum Archimedes). Namun harus ada koreksi untuk volume paru residual dan udara dalam perut. Berat (W) tubuh dalam air (uw) direkam dan berat jenis (D) tubuh dihitung dengan rumus:

  4.  
  5. D body = Wuw / (Wair – Wuw)

  6.  

  7.  
  8. Namun hal ini memiliki hasil yang berbeda antara manusia hidup dan kadaver.(Daurenberg,Paul. 2009.)

  9.  

    CT scan (Computerized Axial Tomography Scan)


  10.         CT (CAT) scan atau Computerized Axial
    Tomography
    Scan adalah prosedur x-ray yang mengombinasikan banyak gambar x-ray untuk memperoleh gambaran melintang serta gambar tiga dimensi dari struktur-struktur dalam tubuh (Stoppler, 2010). Scan ini dilakukan dengan pengambilan gambar x-ray tubuh dari berbagai sudut pandang tubuh. Gambar-gambar ini kemudian diproses komputer untuk menghasilkan gambar-gambar penampang melintang tubuh dua dimensi, dan dapat digabungkan menjadi suatu gambar tiga dimensi bila diperlukan.
  11.         CT scan dilakukan untuk menganalisa struktur dalam tubuh, seperti halnya mengidentifikasi infeksi serta tumor pada kepala. CT juga dapat dilakukan untuk mengukur kerapatan tulang, khususnya bagian vertebral, dalam evaluasi osteoporosis, karena kemampuannya untuk memberikan gambaran anatomis secara akurat. Akan tapi, metode ini jarang dilakukan untuk pengukuran kerapatan tulang, karena biayanya yang mahal, serta menggunakan radiasi yang cukup banyak (Jathar, 2009). Adapun nilai kerapatan dihitung melalui gambar yang diperoleh.


     


  12.     Gambar 1. Penampang melintang menunjukkan pengukuran CT terhadap kerapatan tulang untuk kemudian dibandingkan dengan data empiris kerapatan tulang (historis), agar dapat ditentukan apakah seseorang menderita osteroporosis atau tidak.

  13.  
  14. MRI (Magnetic Resonance Imaging)


     

  15.         Cara serupa juga dapat dilakukan dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging). MRI scan adalah teknik radiologi yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambaran struktur tubuh (Shiel, 2010). MRI menggunakan scanner khusus berupa tabung yang dilingkari oleh magnet. Pasien yang diperiksa, dimasukkan ke dalam tabung. Magnet menghasilkan medan magnet kuat yang menyearahkan proton-proton hidrogen, kemudian dipaparkan gelombang radio. Hal ini akan membuat proton-proton di dalam tubuh menghasilkan suatu sinyal , yang dideteksi oleh receiver dan diproses oleh komputer untuk menghasilkan gambar. Gambar yang dihasilkan sangat detail dan beresolusi tinggi; dari gambar tersebut dapat diperoleh nilai kerapatan tulang, selayaknya pada CT scan.


     

  16. Table 1. Relative mass and density for arm, forearm, leg, and foot based on data from six embalmed cadavers (from Clarys & Marfeel-Jones,1986)

    BODY SEGMENT

    TISSUE

    RELATIVE MASS [%]

    DENSITY [gcm-3]

    ARM

    Skin

    6.90

    1.050

    Adipose

    36.45

    0.945

    Muscle

    41.85

    1.049

    Bone

    14.80

    1.224

    FOREARM

    Skin

    8.35

    1.051

    Adipose

    23.55

    0.961

    Muscle

    51.50

    1.054

    Bone

    16.60

    1.308

    LEG

    Skin

    6.00

    1.055

    Adipose

    28.95

    0.958

    Muscle

    42.70

    1.042

    Bone

    22.35

    1.2075

    FOOT

    Skin

    13.25

    1.0586

    Adipose

    30.95

    0.992

    Muscle

    24.70

    1.037

    Bone

    31.10

    1.1525


     

  17. KESIMPULAN


     

        Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan massa dan kerapatan tubuh manusia yaitu Volume displacement method, CT scan, dan MRI scan. Volume displacement method merupakan metode tertua untuk mengukur berat jenis tubuh manusia. CT scan adalah prosedur x-ray yang mengombinasikan banyak gambar x-ray untuk memperoleh gambaran melintang serta gambar tiga dimensi dari struktur-struktur dalam tubuh (Stoppler, 2010). CT scan dapat dilakukan untuk mengukur kerapatan tulang, dalam evaluasi osteoporosis, karena kemampuannya untuk memberikan gambaran anatomis secara akurat. MRI scan adalah teknik radiologi yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambaran struktur tubuh (Shiel, 2010) Gambar yang dihasilkan sangat detail dan beresolusi tinggi; dari gambar tersebut dapat diperoleh nilai kerapatan tulang.


     

  18. DAFTAR PUSTAKA


     

    Anonim._. What is the relationship between density and mass . diambil dari : http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_relationship_between_density_and_mass. [23 Oktober 2010]

    Martha Marie Day._. Density. Diambil dari : http://www.visionlearning.com/library/module_viewer.php?mid=37. [23 Oktober 2010]

    Melissa Conrad Stoppler, MD. 2010. Computerized Axial Tomography(CAT Scan/CT Scan). diambil dari: http://www.medicinenet.com/cat_scan/article.htm [23 Oktober 2010]


     

    Rutuja Jathar._. What is a Bone Density Test. diambil dari: http://www.buzzle.com/articles/what-is-a-bone-density-test.html. [23 Oktober 2010]


     

    William C. Shiel, Jr., MD, FACP, FACR. 2010. Magnetic Resonance Imaging (MRI Scan). diambil dari: http://www.medicinenet.com/mri_scan/article.htm [23 Oktober 2010]

Tugas Biomaterial, Ujian Lisan Semester Ganjil Angkatan 2008

FABRIKASI KOMPOSIT KALSIUM FOSFAT – KITOSAN UNTUK APLIKASI ORTHOPEDIC DAN DENTAL


 

Arindha Reni Pramesti (080810115) ; Miranda Zawazi Ichsan (080810136)

Biomedical Engineering Airlangga University

2011


 

ABSTRACT

Penyakit pada gigi (Periodontal Disease), osteoporosis, kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, dan berbagai kecelakaan lainnya kerap menimbulkan luka dan hilangnya beberapa serpih tulang. Sel-sel tulang sebenarnya memiliki kemampuan memulihkan diri, tetapi pemberian pengganti tulang yang hilang bisa mempercepat pemulihan secara lebih sempurna. Disini kami akan memaparkan tentang pengembangan pengganti tulang dengan biomaterial cangkang telur dan chitosan dari cangkang kepiting.

Cangkang telur mengandung 94 persen kalsium karbonat. Untuk mendapatkan hanya unsur kalsium yaitu dengan memanaskan cangkang telur dengan suhu sampai 1.000 derajat celsius. Kemudian kalsium ini harus disenyawakan lagi dengan diamonium fosfat atau fosfat sintetik dengan pemanasan sampai suhu 1.000 derajat celsius pula. Jadilah serbuk senyawa kalsium fosfat atau hidroksiapatit dengan karakter yang sama dengan penyusun tulang manusia

Hidroksiapatit yang diperoleh kemudian digunakan sebagai mineral pembuatan komposit kalsium fosfat-kitosan. Selain hidroksiapatit, mineral lain yang juga ditambahkan adalah apatit karbonat. Fungsi apatit karbonat adalah sebagai penyeimbang sifat kalsium fosfat yang keras dan padat. Apatit karbonat ini memiliki sifat mudah diserap oleh larutan tubuh sehingga memudahkan pertumbuhan tulang.


 

PENDAHULUAN

Selama ini, setelah isi telur ayam diambil dan digunakan untuk keperluan konsumsi harian, misalnya dengan memasaknya, kita seringkali membuang cangkangnya begitu saja. Padahal potensi limbah cangkang atau kerabang telur di Indonesia cukup besar. Sebagai gambaran, produksi telur ayam ras nasional pada tahun 2009 sebesar 1.071.398 ton. Jika rata-rata berat telurnya 60 g, cangkang telur yang dihasilkan dalam setahun adalah 178.566,33 ton. Cangkang telur dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena sulit didegradasi oleh mikroba tanah. Untuk itu perlu metode alternatif untuk memproses dan menggunakan cangkang telur dengan cara yang bermanfaat bagi lingkungan misal dengan mengembangkan pengganti tulang menggunakan biomaterial cangkang telur.

    Mineral yang banyak terdapat dalam cangkang telur adalah Calsium. Dibawah ini tabel kandungan bahan dalam cangkang telur ayam ras komersil.

Tabel 1. Bahan yang terkandung dalam Cangkang Telur Ayam Ras Komersil


    Cangkang telur ayam yang membungkus telur umumnya beratnya 9-12% dari berat telur total, dan mengandung 94% Calsium karbonat, 1% Kalium Phosphat, 1% Magnesium karbonat dan 4% bahan organic. Cangkang telur mengandung hampir 95.1% terdiri atas garam-garam organik, 3.3% bahan organik (terutama protein), dan 1.6% air. Sebagian besar bahan organik terdiri atas persenyawaan Calsium karbonat (CaCO3) sekitar 98.5% dan Magnesium karbonat (MgCO3) sekitar 0.85% Jumlah mineral didalam Cangkang telur beratnya 2,25 gram yang terdiri dari 2,21 gram Calsium, 0,02 gram Magnesium, 0,02 gram Phosphor serta sedikit besi dan Sulfur.

    Calsium erat sekali dengan pembentukan tulang. Phosphor berfungsi sebagai pembentuk tulang, persenyawaan organic yaitu yang berfungsi dalam pembentukan senyawa organik dan sebagian besar metabolisme energi. Sehingga Phospor sebagai fosfat memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi semua sel hidup. Mineral kalsium (Ca) dan fosfat (P) merupakan mineral yang menyusun tulang dan gigi manusia.

    Calsium dan fosfat, seperti bahan keramik lainnya, memiliki sifat yang rapuh sehingga perlu ditambahkan elastomer matrik polimer agar menghasilkan karakteristik yang tidak terlalu kaku sehingga cocok digunakan dalam aplikasi dental maupun orthopedic.

    Chitosan merupakan biopolimer alami yang bisa digunakan sebagai matriks elastomer. Chitosan memiliki sifat biokompatibel, biodegradabel, dan osteokonductive. Chitosan bisa diperoleh melalui sintesa kitin dari limbah cangkang kepala udang maupun cangkang kepiting. Kitosan merupakan senyawa dengan rumus kimia poli(2-amino-2-dioksi-β-D-Glukosa) yang dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat.


 

PEMBAHASAN


 

Metode Ekstraksi Kalsium dari Cangkang Telur

Cangkang telur mengandung 94 persen kalsium karbonat. Untuk mendapatkan hanya unsur kalsium yaitu dengan memanaskan cangkang telur dengan suhu sampai 1.000 derajat celsius dengan menggunakan tungku pembakaran. Kemudian kalsium ini harus disenyawakan lagi dengan diamonium fosfat atau fosfat sintetik dengan pemanasan sampai suhu 1.000 derajat celsius pula untuk menghasilkan apatit karbonat.

Langkah-langkah :

  1. Menghancurkan cangkang telur menjadi ukuran yang lebih kecil. Ukuran yang biasa digunakan adalah diameter ¼ inci.
  2. Setelah sizing , cangkang telur kemudian di sentrifugasi . tujuannya adalah untuk menghilangkan sisa-sisa cairan telur dan kelembaban sebab cangkang telur memiliki tingkat kelembaban 11,5%.
  3. Cangkang telur kemudian ditempatkan dalam alat pemanas untuk kalsinasi.
  4. Pemanasaan cangkang telur dimulai. Suhu pemanasan tergantung pada komponen cangkang yang diinginkan untuk dikalsinasi.
  5. Dalam kurun waktu pemanasan pertama, suhu kalsinasi sekitar 3500C dapat digunakan untuk kalsin oksida seng dalam cangkang. Seng karbonat diubah menjadi ZnO yang memiliki efek menguntungkan sebagai agen antibakteri. pH seng oksida yang terbentuk pada suhu sekitar 3500 sampai 4000C adalah sebesar 8,25. Konsentrasi seng oksida yang terkandung didalam cangkang memiliki kegunaan yang berharga. Pada suhu ini , protein dari bahan organic pada cangkang tidak rusak yang dapat digunakan untuk produk nutrisi pakan ternak dan sebagai bahan pengawet.
  6. Suhu kalsinasi yang digunakan dalam zona pemanasan kedua adalah sekitar 6000C yang dapat menghasilkan magnesium oksida. Pada suhu 5000C cangkang tersebut dapat memuat sekitar 75% magnesium karbonat dan 25% magnesium oksida. Sedangkan pada 6000C ada konversi penuh magnesium oksida dari karbonat. pH dari magnesium oksida adalah sekitar 10-11 yang memberikan kualitas bakteriostatik ke magnesium oksida.
  7. Suhu kalsinasi konvensional untuk Kalsium adalah 9000C. Konversi lengkap Kalsium karbonat menjadi kalsium oksida terjadi pada suhu sekitar 12000C. aktivitas anti-mikroba terlihat pada cangkang telur yang dikalsinasi pada suhu berkisar antara 10000C sampai 12000C. pemanasan pada suhu sekitar 12000C ini menyebabkan hilangnya oksigen sehingga meningkatkan porositas dan luas permukaan senyawa untuk membuat lebih bioavailable.
  8. Masing-masing pemanasan ditiap zona dilakukan selama 50 menit.
  9. Setelah itu masuk tahap pendinginan . pada tahap ini suhu yang digunakan dikurangi menjadi 500C.
  10. Produk yang dihasilkan oleh cangkang telur nanti adalah berwarna putih.
  11. Produk yang telah didinginkan kemudian digiling dengan ukuran 1-50 mikron.


 

Kalsinasi adalah pemanasan yang solid di bawah titik leleh untuk menciptakan keadaan dekomposisi termal atau transisi fasa lain dari mencair. Reaksi yang mungkin terjadi saat pemanasan yang solid dibawah titik leleh termasuk disosiasi termal dan rekristalisasi termal, Cangkang sendiri mengalami fase dari padat ke keadaan amorf sebelum didinginkan, dikeringkan, dan ditumbuk menjadi bubuk. Bubuk cangkang telur yang telah jadi memilik komposisi sebagai berikut :



 

Table dibawah ini menunjukkan hasil kalsinasi dalam 3 zona :

 

1000C

4000C

5000C

6500C

7000C

8500C

9000C

10000C

12000C

CaCO3

(Kalsium Karbonat)

pH 6,5 

 

pH 7,78 

pH 8,0 

 

pH 11,5

50% CaCO4

50% CaO 

  

100% CaO (kalsium oksida) dengan porositas yang meningkat, dan area permukaan yang lebih luas. 

MgCO3

(Magnesium Karbonat)

pH 6,9 

 

75% MgC4

25% MgO 

pH 10-11 

Bakteriostatik properties, ukuran pori meningkat, kelarutan meningkat

    

ZnCO3

(Seng Karbonat)

 

Pd suhu 3640C terbentuk ZnO (Seng oksida) 100%, bakterioastatik, pH 8,25

       


 

Gambar 1. Grafik korelasi antara suhu dan pH :


Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa suhu mempengaruhi perubahan yang sinifikan dalam konversi garam karbonat ke oksida logam. Pada suhu 3640C ditemukan bahwa ZnO terbentuk. Pada suhu 6500C-7000C, MgO benar-benar diubah oleh panas ke garam oksida. Kalsium, garam karbonat dan oksida masih ada pada suhu 8500C, dengan konversi lengkap untuk oksida pada suhu 12000C.

Gambar 2. Diagram alur pembuatan bubuk cangkang telur


Keterangan : Cangkang telur yang telah dikalsinasi dapat keluar masing –masing bentukannya (ZnO, MgO, CaO) , dalam diagram diatas dapat dilihat pada periode 3a, 4a, dan 5a , kemudian harus didinginkan, dikeringkan, dan digiling untuk membentuk bubuk.


 

Metode pembuatan kitosan dari cangkang kepiting


 

    Untuk membuat chitosan dari cangkang kepiting langkah kerjanya adalah sebagai berikut :

  1. Cara kerja

(Tahap I)

  1. Menyiapkan cangkang (dipotong 50 gram)
  2. Merebus dengan NaOH 10 % = berat/berat

    Cangkang     :     larutan

    1        :    10

    30        :    300 ml

    Larutan NaOH 10 %

    Bekker Glass 500 ml

    50 gram     menjadi 500 ml

    1. air + 50 gram NaOH

    (Selama ±2 jam).

  3. Mencuci dengan air PDAM
  4. Merendam dalam HCl 3,2%. HCl di cairkan dengan Bekker Glass 500 ml (Selama 2 jam).
  5. Mencuci dengan menggunakan air PDAM ±3 kali lalu menggunakan aquades (menghemat aquades).

(Tahap II)

  1. Melarutkan 225 gram NaOH dalam 200 ml air agar bisa menjadi 500 ml (tahap I)
  2. Merebus larutan NaOH dan cangkang kepiting selama 2,5 jam
  3. Mencuci cangkang setelah 2,5 jam dan membuat larutan NaOH 500 ml untuk tahap ke dua
  4. Merebus cangkang kepiting dalam larutan NaOH 500 ml (tahap II)
  5. Mencuci cangkang dengan air PDAM hingga bersih dari NaOH (tidak licin) kemudian mengeringkan dengan cara diangin-anginkan.

(Tahap III)

  1. Menimbang cangkang yang telah kering ± 0,15 gram sebanyak 4 kali.
  2. Membuat larutan asam asetat 1% dan 5 %.
  3. Memasukkan 0,15 gram cangkang ke dalam 1% dan 5% asam asetat kemudian diamati (diaduk dengan pengaduk kaca agar lebih cepat larut).
  4. Mengeringkan sisa kitin yang tidak larut lalu menimbang sehingga diketahui jumlah kitosan yang terbentuk dari 50 gram cangkang kepiting.


 

Chitosan yang telah jadi bisa diubah menjadi bentuk bubuk untuk di campur dengan bubuk kalsium fosfat dari cangkang telur. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, komposit kalsium fosfat-kitosan dapat ditambah dengan apatit karbonat. Fungsi apatit karbonat adalah sebagai penyeimbang sifat kalsium fosfat yang keras dan padat. Apatit karbonat ini memiliki sifat mudah diserap oleh larutan tubuh sehingga memudahkan pertumbuhan tulang. Apatit karbonat dihasilkan dengan mereaksikan senyawa kalsium dari cangkang telur dan fosfor dari diamonium hydrogen fosfat dengan metode presipitasi. Metode presipitasi adalah pencampuran asam dengan basa yang menghasilkan padatan kristalin dan air.

    Komposit kalsium fosfat-kitosan dibuat dengan menggunakan getaran gelombang ultrasonic agar pencampuran kalsium fosfat, apatit karbonat, dan kitosan terjadi sempurna. Komposit dengan komposisi 64 persen kalsium fosfat, 16 persen apatit karbonat, dan 20 persen kitosan merupakan komposit pengganti tulang berbahan biomaterial cangkang telur yang paling baik.

    Kekuatan dan resorbable komposit kalsium fosfat – kitosan dapat digunakan pada perbaikan tulang gigi dan orthopedic. Dalam bidang dental untuk perbaikan tulang alveolar, kemudian dalam bidang orthopedic dapat digunakan dalam vertebroplasty yaitu suatu prosedur yang menempatkan materi lembek yang dapat memadat dalam beberapa detik di dalam badan tulang belakan dengan tujuan untuk memperkuat tulang belakang. Prosedur ini biasanya diterapkan pada tulang orang tua yang mengalami osteoporosis.


 

KESIMPULAN

Pengembangan material pengganti tulang untuk mempercepat pemulihan dapat diperoleh dari biomaterial cangkang telur dan chitosan dari cangkang kepiting

Cangkang telur mengandung 94 persen kalsium karbonat. Kalsium didapatkan dengan memanaskan cangkang telur dengan suhu sampai 1.000 derajat celsius. Kemudian kalsium disenyawakan lagi dengan diamonium fosfat atau fosfat sintetik dengan pemanasan sampai suhu 1.000 derajat celsius menjadi serbuk senyawa kalsium fosfat atau hidroksiapatit. Hidroksiapatit yang diperoleh kemudian digunakan sebagai mineral pembuatan komposit kalsium fosfat-kitosan dan juga ditambahkan adalah apatit karbonat.

Komposit dengan komposisi 64 persen kalsium fosfat, 16 persen apatit karbonat, dan 20 persen kitosan merupakan komposit pengganti tulang berbahan biomaterial cangkang telur yang paling baik.


 

DAFTAR PUSTAKA

Administrator. 2010. Teknologi Biomaterial : Cangkang Telur Pengganti Tulang. http://humasprotokoler.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=420&catid=57 di akses tanggal 8 januari 2010


 

Indonesiapround. 2010. Mahasiswa UGM Manfaatkan Limbah Cangkang Telur Menjadi Pakan Unggas. http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/11/19/mahasiswa-ugm-manfaatkan-limbah-cangkang-telur-menjadi-pakan-unggas/ di akses tanggal 8 januari 2010


 

Wang, Pie-Yi, dkk. 2004. Method Of Producing Eggshell Powder. http://www.wipo.int/pctdb/images1/PATENTSCOPE/41/0b/6b/000b6b.pdf di akses tanggal 8 Januari 2011


 

Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19401/4/Chapter%20II.pdf